Tentang WCD Indonesia

World Cleanup Day (WCD) adalah aksi bersih-bersih yang dilaksanakan serentak di 191 negara di dunia dengan tujuan menyatukan umat manusia dari berbagai budaya, agama, suku dan ras untuk membersihkan dunia dari permasalahan sampah. Aksi ini merupakan perwujudan peningkatan kepedulian terhadap permasalahan sampah serta menjadi sarana memupuk nilai cinta kasih terhadap masa depan Bumi.

World Cleanup Day Indonesia (WCDI) pertama kali diperkenalkan oleh Let’s Do It! Indonesia pada tahun 2014. Let’s Do It! Indonesia yang merupakan organisasi di bawah naungan Let’s Do It! World Movement menggandeng berbagai komunitas untuk membentuk organisasi core team nasional di Indonesia dengan tujuan memimpin aksi gotong royong pungut sampah terbesar di dunia. Aksi World Cleanup Day di Indonesia telah sukses dilaksanakan dari tahun 2018-2021 dengan total mencapai 22.694.328 relawan, 43.234.680 kg sampah telah dibersihkan, serta melibatkan 7.813 komunitas, 641 perusahaan, dan 353 universitas. Pada tahun 2021, dengan mengusung tema “Bersatu untuk Indonesia Bersih”, WCDI telah menjadi momentum persatuan bagi masyarakat Indonesia untuk membawa perubahan dan dampak dalam kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan tersebut terselenggara berkat dukungan Kemenkomarves melalui “Gerakan Indonesia Bersih” dan KLHK melalui “Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah”.

Pada tahun 2022, kegiatan WCDI akan mengusung tema “Kami 13 juta Menuju Indonesia Bersih dan Bebas Sampah”. Tema ini diangkat sebagai wujud semangat persatuan menuju Indonesia Bersih melalui jaringan leaders, partners, dan seluruh masyarakat dalam kampanye #kami13juta. Diharapkan sebanyak 13 juta relawan atau lima persen dari populasi masyarakat Indonesia dapat turut serta pada aksi tahun ini dan menjadi salah satu bagian dari sejarah aksi gotong royong pungut sampah terbesar di dunia.


Sumber : (https://www.indorelawan.org/p/worldcleanupday)

World Cleanup Day (WCD)

  

 

WADAH ALUMNI MENWA IARMI, RESMI BERDIRI DI SUKOHARJO

 
SUKOHARJO – Sebuah organisasi wadah kumpulan alumni resimen mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia bernama Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) resmi memiliki pengurus tingkat Kabupaten di Sukoharjo.

Nuryanto, alumni Univet Bantara Sukoharjo angkatan 88, setelah melalui proses pembahasan selama satu bulan oleh Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Jawa Tengah dipercaya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) IARMI Sukoharjo, periode 2017 -2021.

“IARMI adalah organisasi nirlaba, dimana tujuannya untuk mengumpulkan para alumni Menwa agar bisa mengambil peran berkontribusi membangun daerah,” kata Ketua DPP IARMI Jateng, Ayub Purnomo saat melantik Nuryanto beserta pengurus lainnya di Pendopo Graha Satya Praja, komplek Setda Sukoharjo, Sabtu (18/11/2017).

Mewakili seluruh anggota IARMI, Ayub menyampaikan penghargaannya kepada Bupati Sukoharjo, H. Wardoyo Wijaya SH.,MH yang hadir di wakili Sekretaris Daerah, Drs. Agus Santosa Dimana Bupati telah memfasilitasi upacara pelantikan kepengurusan DPK IARMI Sukoharjo.

“Rata-rata IARMI dilantik di kampus, tapi di Sukoharjo, kami mendapat kehormatan difasilitasi Bupati di lantik di Pendopo Kabupaten,” ungkapnya.

Usai dilantik sebagai Ketua DPK IARMI Sukoharjo, Nuryanto dalam waktu dekat berjanji segera melakukan sosialisasi terkait keberadaan IARMI terutama di kampus-kampus. Pasalnya, selama ini banyak yang belum mengenal secara utuh peran dan fungsi IARMI.

“Program jangka pendek, kami akan menghidupkan kembali resimen mahasiswa di kampus Univet yang telah lama vakum. Sedangkan program lain yang siap dijalankan yakni kegiatan sosialisai tentang air bersih, pengelolaan sampah serta gelar pelatihan di sekolah tentang manajemen siswa,” terangnya

Sementara, Sekda Sukoharjo, Drs. Agus Santosa, selain mengucapkan selamat kepada pengurus baru IARMI di Sukoharjo, dia juga berharap dengan adanya kepengurusan IARMI di Kota Makmur, setidaknya dapat membantu menjaga Stabilitas dan Kondusivitas daerah dengan semangat persatuan.

“Saya ini juga punya pengalaman sewaktu masih mahasiswa. Pernah ikut Diksar angkatan 84 di Rindam Diponegoro, Semarang, punya baret. Tadi sewaktu mau berangkat kesini (Pendopo- Red) sebernya mau saya pakai. Karena sudah lama, lupa naruhnya jadi gak ketemu,” ungkap Sekda Drs Agus Santosa. (Tj)

 

https://jatengprov.go.id

WADAH ALUMNI MENWA IARMI, RESMI BERDIRI DI SUKOHARJO

  


FAIDAH HADITS-HADITS AL-ARBA’IN AN-NAWAWIYAH

HADITS PERTAMA

 

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِيءٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللّٰهِ ورَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إليْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

A. Kedudukan hadits

Berkata Al Imam Ahmad dan Al Imam Asy-syafi’i rohimahumallahu ta’ala : “Masuk dalam hadits innamal a’maalu bin-nyyaat sepertiga ilmu”.

Berkata Al Imam Ahmad : “Hadits niat ini masuk dalam tujuh puluh bab masalah fiqih…”

Berkata Al Imam Ibnu Rojab : “Hadits ini adalah salah satu hadits yang agama Islam berkisar diatasnya (sebagai sumber dalil)”.

Berkata Abdurrahman bin Mahdi : “Seandainya aku menulis sebuah kitab yang di dalamnya terdapat beberapa bab, maka pasti akan aku jadikan hadits Umar bin Khattab ini tertulis pada setiap bab. Beliau juga berkata : “Barangsiapa yang ingin menulis sebuah kitab, maka hendaknya dia mulai dengan hadits Al a’maalu bin-nyyaat”.

 

B. Diantara faidah hadits

1. Bahwasanya tidak ada suatu amalan kecuali pasti memiliki niat. Karena tidak mungkin seseorang yang berakal dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk melakukan amalan tanpa niat.

2. Hadits ini bantahan bagi orang-orang yang suka was-was yang mana mereka mengulangi amalan beberapa kali dengan alasan karena niatnya tidak tepat (kurang mantap). Padahal jika dia adalah seseorang yang berakal dan dapat memilih antara kebaikan dan keburukan tidak mungkin beramal tanpa niat.

3. Bahwasanya seseorang akan diberi pahala dan dosa berdasarkan niatnya.

4. Hadits ini menunjukkan bahwasanya niat adalah bagian dari iman, karena niat adalah amalan hati. Dan iman menurut ahlussunnah adalah pembenaran dalam hati, pengucapan dengan lisan dan beramal dengan seluruh anggota badan.

5. Hadist ini menunjukkan bahwasanya seseorang sebelum melakukan suatu amalan wajib mengetahui hukumnya terlebih dahulu. Apakah disyaratkan ataukah tidak, apakah wajib atau sunnah. Karena suatu amalan dianggap tidak ada jika kosong dari niat yang disyariatkan pada amalan itu.

6. Hadits ini menunjukkan atas disyaratkannya niat dalam seluruh amal ketaatan. Amalan ketaatan apapun yang di kerjakan tanpa niat maka tidak teranggap.

7. Sesungguhnya amalan itu tergantung wasilah (perantaranya). Terkadang sesuatu yang pada asalnya mubah dapat berubah menjadi ketaatan jika seseorang yang mengerjakannya meniatkan perbuatan itu sebagai kebaikan.

8. Hendaknya bagi seorang guru atau pengajar atau da’i untuk dapat memberikan permisalan atau sebuah contoh yang dapat memperjelas suatu hukum yang sedang dijelaskan.

 

Di terjemahkan oleh Ahmad Imron Al Fanghony hafidzohullahu ta’ala.

Rujukan :

Kitab Al-Fawaid Adz-dzahabiyah min Ar-ba’in An-Nawawiyah karya Syaikh Abu Abdillah Hammud bin Abdillah Al Mathor dan Syaikh Abu Unais Ali bin Husain.

AMAL TERGANTUNG NIAT

  

 

Begitu Cepat Waktu Berlalu

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ

 إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى

فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.

Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita bisa meraih rida Rabb kita dan dengannya pula kita akan mendapatkan kehidupan yang mulia. Orang yang bertakwa dicap oleh Allah Ta’ala sebagai makhluk-Nya yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)

Sungguh, waktu ini sangatlah cepat berlalu. Rasanya belum lama kita bertemu dengan tahun 1443 Hijriyyah. Namun, ternyata tahun 1443 sudah hampir usai dan tak akan kembali. Berlalu juga semua kesempatan ibadah di dalamnya. Ramadan yang telah kita lewati, musim haji, dan bulan Zulhijah telah usai yang ditandai dengan jemaah haji yang mulai berdatangan dari tanah suci Makkah, kembali ke tanah air ini. Sungguh, waktu sangatlah cepat berlalu, dan itu tidaklah mengherankan, karena cepatnya waktu adalah salah satu karakteristik kehidupan di akhir zaman.

Singkatnya waktu yang kita rasakan merupakan salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat sebagaimana yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ

“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman berdekatan. Setahun bagaikan sebulan. Sebulan bagaikan sepekan. Sepekan bagaikan sehari. Sehari bagaikan sejam. Dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Ahmad no. 10943 di dalam Musnad-nya)

Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.

Alangkah bahagianya bagi siapa saja yang telah memperbanyak ketaatan, berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha mengangkat derajat pahalanya, dan berusaha agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya pada tahun ini, serta bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang telah Allah takdirkan. Allah Ta’ala berfirman,

يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ

“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam).” (QS. An-Nisa’: 44)

Alangkah senangnya bagi siapa saja yang mengisi hari-harinya dengan mengerjakan perintah Allah, memenuhi bulan-bulannya dengan menjawab panggilan salat, dan mengorbankan tahun-tahun kehidupannya di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala disertai dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa inilah tujuan diciptakannya manusia di bumi ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Dan firman-Nya juga,

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5

Ma’asyiral Mu’minin, yang dirahmati Allah Ta’ala.

Di antara hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya yang telah Allah berikan begitu banyak kenikmatan, yang telah Allah berikan kesempatan hidup hingga detik ini dalam keadaan yang baik adalah mensyukuri segala nikmat-Nya serta memuji-Nya atas segala kemulian-Nya. Karena rasa syukur menyebabkan bertambahnya kenikmatan dan mencegah dari penderitaan. Alangkah baiknya manusia selalu meresapi dan mematri dengan kuat di dalam hatinya firman Allah Ta’ala,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Saat seorang muslim bersyukur, maka kebaikannya akan kembali ke dirinya sendiri. Dan saat ia kufur terhadap nikmat Allah, maka bahayanya pun akan kembali ke dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apapun dari seluruh alam ini. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

“Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)

Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.

Tidak ada yang menjadi tugas kita, kecuali memuji Allah atas apa yang telah diberikan kepada kita. Pujian kita kepada-Nya menandakan keridaan kita atas limpahan rezeki-Nya, dan tidak ada balasan dari keridaan seseorang kepada Allah, kecuali kemenangan yang besar. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk rida kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa memuji-Nya atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Bahkan, terhadap makanan dan minuman yang kita makan setiap harinya.

إنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah rida kepada hamba yang menyantap makanan lalu memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim no. 2734)

Ma’asyiral Mu’minin, yang semoga diridai oleh Allah Ta’ala.

Sesungguhnya di antara kemuliaan seseorang, saat ia sudah di penghujung sebuah waktu adalah meluangkan waktunya seorang diri, untuk mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya atas amalan apa yang telah diperbuat dan amalan apa yang telah terlewat. Demikian juga dengan waktu yang telah Allah berikan, sudahkah ia manfaatkan ataukah ia sia-siakan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ 

“Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459, beliau mengatakan hadis ini ‘hasan’)

Imam Tirmidzi mengatakan, “Maksud sabda Nabi ‘Orang yang mempersiapkan diri’ adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum dihisab pada hari kiamat.”

أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيمُ.

 


Khotbah kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

Wahai orang-orang yang beriman.

Ketahuilah, sesungguhnya kunci kesuksesan orang-orang terdahulu maupun untuk generasi yang akan datang adalah tidak menunda-nunda dalam beramal. Apa yang bisa kita kerjakan di hari tersebut, maka tidak kita tinggalkan untuk dikerjakan esok harinya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا

“Tidak ada satu pun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ: شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan dengan baik lima perkara sebelum (datangnya) 5 perkara, yaitu: (1) Masa mudamu sebelum (datang) masa tua. (2) Masa sehatmu, sebelum (datang) masa sakit. (3) Masa mampumu sebelum datang masa fakir. (4) Masa luangmu, sebelum datang masa sibuk. (5) Masa hidupmu sebelum (datang) kematian.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10248 dengan sanad yang sahih)

Beliau juga bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)

Jemaah salat Jumat yang berbahagia.

Di antara kunci sukses dalam beramal yang lainnya adalah membuat perencanaan untuk waktu yang akan datang, bagaimana rencana beramal kita pada tahun depan, sehingga kehidupan kita lebih tertata dan lebih tertib.

Orang yang berakal adalah yang bisa menambah intensitas ibadahnya setiap harinya. Ada sebuah ungkapan yang sangat indah,

مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ كَنَدَمِي عَلَى يَوْمٍ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزْدَدْ فِيهِ عَمَلِي

“Sungguh aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku pada hari di mana umurku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”

Peningkatan sesuatu itu tidak hanya dalam kuantitasnya saja, akan tetapi bisa saja berupa peningkatan dalam kualitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh (profesional).” (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’.)

Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang dikerjakan secara konsisten walaupun jumlahnya sedikit. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa agama kita lebih mengutamakan kualitas sebuah amalan daripada kuantitasnya.

Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)

Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala tidak berfirman, ‘yang paling banyak amalannya’.”

Semoga Allah menuliskan kita sebagai salah satu hamba-Nya yang dapat bersyukur, mengisi hari-hari kita dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, konsisten di dalamnya dan tidak menunda-nundanya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang lebih mengutamakan kualitas amal daripada kuantitasnya, yaitu beramal dengan ikhlas mengharap rida Allah dan sesuai dengan tuntunan serta petunjuk dari Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: www.muslim.or.id



© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/77107-khotbah-jumat-begitu-cepat-waktu-ini-berlalu.html

 

Begitu Cepat Waktu Berlalu

  


Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan?

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Ummatal Islam,

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa beribadah kepadaNya. Karena itulah tujuan hidup kita di dunia. Allah berfirman:


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)

Maka kewajiban setiap hamba untuk benar-benar memperhatikan tentang ibadah. Karena itu adalah merupakan tujuan hidupnya. Manusia tidak diciptakan untuk hidup di dunia selamanya, manusia tidak diciptakan untuk senantiasa mencari dunia dan dunia walaupun itu sesuatu yang ia butuhkan dalam hidupnya. Karena sesungguhnya ibadah adalah kebutuhan yang lebih besar daripada makanan dan minuman.

Maka kewajiban seorang hamba untuk senantiasa merealisasikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara menuntut ilmu, dengan cara berusaha mengamalkan ilmu,  dengan cara berusaha untuk mengikuti jejak kaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena tidak ada manfaat hidup kalau ternyata tidak diwarnai dengan ibadah kepada Allah.

Manusia berbeda dengan binatang ternak. Binatang ternak hanya mengikuti hawa nafsu saja, mereka tidak diberikan oleh Allah akal, mereka tidak diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala alat untuk berpikir. Mereka hanya hidup di dunia saja. Adapun di hari akhirat mereka dikumpulkan kemudian menjadi tanah. Saat itulah orang-orang kafir berkata:

يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا

Andaikan aku pun menjadi tanah seperti mereka.” (QS. An-Naba'[78]: 40)

Maka dari itu saudaraku.. Manusia diberikan oleh Allah balasan di akhirat kelak.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ  ﴿٧﴾  وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ  ﴿٨

Siapa yang mengamalkan kebaikan sekecil apapun dia akan melihat balasannya dan siapa yang mengamalkan keburukan sekecil apapun dia akan melihat balasannya.” (QS. Al-Zalzalah[99]: 7-8)

Maka setiap kita, saudaraku.. Berpikir tentang hakikat hidupnya di dunia bahwasanya ia akan kembali kepada Allah. Bahwasannya ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka saudaraku sekalian.. Kita hidup di dunia hendaklah waspada. Jangan sampai kemudian kita tenggelam di dalam dunia. Karena sesungguhnya ketika kapal itu telah dipenuhi oleh air di lautan, ia akan karam dan tenggelam. Demikian pula hati ketika telah dipenuhi dengan cinta dunia, ia akan tenggelam dan karam.

Maka dari itulah saudara-saudaraku sekalian..

Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang hakikat dunia. Allah berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tidaklah kehidupan dunia kecuali kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid[57]: 20)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengingatkan dalam hadits-haditsnya yang shahih tentang hakikat dunia. Dan bahwasanya dunia itu sesuatu yang hina dimata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua itu adalah agar kita tidak tertipu dengan dunia, tidak tertipu dari perjalanan kita menuju kehidupan akhirat. Karena seseorang ketika hatinya hanya mengharapkan dunia dan dunia, maka akhiratnya pun hancur lebur, yang ia harapkan dari ibadah hanya dunia, yang ia harapkan dari ibadah hanya harta, sehingga Allah berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٦

Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami akan berikan dari apa yang ia inginkan dari amalannya tersebut tanpa dikurangi. Tapi mereka di akhirat tidak mendapatkan apapun kecuali api neraka, batal amalannya dan sia-sia perbuatannya tersebut.” (QS. Hud[11]: 16)

Subhanallah, saudaraku..

Maka dari itulah saudaraku.. Jangan sampai keinginan kita terbesar adalah kehidupan dunia. Adalah diantara doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau meminta kepada Allah:

وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Ya Allah.. jangan Engkau jadikan dunia harapan kami yang terbesar, jangan Engkau jadikan dunia puncak daripada keilmuan kami ya Allah.”

Karena seseorang ketika hanya harapannya dunia dan harapan dan keinginan terbesarnya dunia, yang dia harapkan hanya dunia, maka dia akan sulit untuk ikhlas mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia mau ibadah ketika ada keuntungan dunianya. Adapun ketika tidak ada keuntungan dunianya ia malas untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang yang berharap dunia sangat besar di hatinya, ia hanya memandang sesuatu yang terhormat itu dengan dunia, bukan dengan amalan shalih, tidak pula dengan ketakwaan kepada Allah Jalla Jalaluhu. Sehingga akhirnya hatinya terbelit dengan kekikiran,  hatinya pun terbelit dengan ketamakan terhadap kehidupan dunia. Sehingga akhirnya bagi dia dunia segalanya. Bahkan ia berani untuk memutuskan silaturrahimnya karena dunia, ia berani untuk menumpahkan darah seseorang karena dunia, ia berani bahkan memusuhi kebenaran pun karena dunia. Lihatlah Fir’aun yang memusuhi Nabi Musa karena dunia, lihatlah Namrud yang memusuhi Nabi Ibrahim karena dunia, lihatlah Heraklius yang mengetahui dengan yakin akan kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Heraklius yakin bahwasanya Nabi Muhammad itu Nabi terakhir, tapi masalahnya Heraklius takut kehilangan dunia. Itulah yang menghalangi Heraklius untuk masuk ke dalam Islam, untuk masuk kedalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala karena dunia.


Ummatal Islam,

Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا الفَقْرَ أَخْشَى عليكُمْ

“Bukan kefaqiran yang aku khawatirkan atas kalian.”

ولكنِّي أَخْشَى أن تُبْسَطَ الدُّنْيا عليكُمْ

“Yang aku khawatirkan atas kalian dibukakan kepada kalian pintu kesenangan dunia.”

فَتَنافَسُوها كَما تَنافَسُوها

“Kalian pun akan berlomba-lomba mencari dunia sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba-lomba mencari dunia.”

فتُهْلِكَكُمْ كما أهلَكَتْهُم

“Lantas dunia pun membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

Ummatal Islam,

Maka sadarilah bahwa kita hidup di dunia sementara, kita akan kembali kepada Allah.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap jiwa pasti merasakan kematian.” (QS. Ali-Imran[3]: 185)

Siapapun dia, apakah ia seorang pemimpin ataukah rakyat jelata, apakah ia orang kaya atau orang yang tak mempunyai harta. Semuanya akan kembali kepada Allah, semua akan meninggal dunia, semua akan dikafankan, semua akan ditanya oleh Malaikat Munkar dan Nakir. Untuk itulah kita berpikir.

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Untuk itulah kita berlomba-lomba,  sadaraku…” (QS. Al-Mutaffifin[83]: 26)

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

Khutbah kedua – Khutbah Jumat Tentang Menghadapi Cobaan dan Ujian Hidup Dengan Ketaatan Kepada Allah

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ


Ummatal Islam,

Bukan berarti kita meninggalkan dunia sama sekali, tidak. Bukankah Allah dan RasulNya memerintahkan kita untuk mencari nafkah? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menikah? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan kita bersedekah?

Lihatlah saudaraku..

Semua itu menunjukkan kita tetap mencari dunia. Akan tetapi yang harus kita waspadai bahwa jangan sampai dunia melupakan kita dari tujuan kita yang utama dalam kehidupan ini. Karena tujuan yang utama di dunia adalah ibadah kepada Allah. Bagaimana kita bisa shalat dengan khusyu’? Bagaimana kita bisa melaksanakan puasa Ramadhan? Bagaimana supaya lisan kita turut berdzikir kepada Allah? Bagaimana supaya kita senantiasa bisa shalat tahajud? Bagaimana kita berusaha supaya kita selalu dalam aktivitas kita menghasilkan pahala demi pahala sehingga pada waktu itu kita senantiasa berada dalam ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini yang kita pikirkan. Inilah pemikiran setiap mukmin dan muslimah. Semua mukmin dan mukminah hendaklah yang ia pikirkan bagaimana saya berlomba dalam kebaikan sebagaimana para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang-orang faqir datang kepada Rasulullah,  mereka mengadukan orang kaya bukan karena kekayaannya. Apa kata mereka?

يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ

“Wahai Rasulallah, orang-orang kaya pergi  membawa pahala yang banyak.”

يُصَلُّوْنَ كَمَـا نُصَلِّـيْ ، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَـا نَصُوْمُ

“Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa.”

وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِـهِمْ

“Tapi mereka bisa sedekah wahai Rasulullah, sementara kami tidak bisa.”

Subhanallah saudaraku sekalian..

Itulah yang kita pikirkan, bagaimana kita beramal dan beramal? Bagaimana harta kita menjadi pahala di sisi Allah? Bagaimana kesehatan kita menjadi pahala di sisi Allah? Bagaimana berbagai macam nikmat yang Allah berikan kepada kita itu menjadi pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala?

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

  اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَات

اللهم تقبل أعمالنا يا رب العالمين، اللهم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم، اللهم اصلح ولاة أمورنا يا رب العالمين، واجعلنا من التوابين واجعلنا من المتطهرين

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عباد الله:

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر
.

 

 

Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan? ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 27 Jumadal Akhirah 1441 H / 21 Februari 2020 H.

(https://www.radiorodja.com)

Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan? (Khutbah Jum'at)

 

 

Islam dan Budaya

Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ اَلَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِعْمَةَ وَجَعَلْنَا مُسْلِمِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً،

أَمَّا بَعْدُ

أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواْ اللهَ تَعَالَى

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya. Yaitu dengan mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi segala yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di antara nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia, di antara asmaul husna adalah nama Allah Al-Khaliq. Yang artinya Sang Maha Pencipta. Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Sang Maha Pencipta, telah menciptakan banyak makhluk di muka bumi ini. Ada yang benda mati. Seperti: gunung, laut, dll. Ada juga makhluk hidup. Yaitu malaikat, manusia, hewan, dsb. Di antara makhluk-makhluk ini, yang paling istimewa adalah makhluk yang bernama manusia.

Allah Subhanahu wa Taa’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” [Quran At-Tin: 4].

Artinya, di antara semua makhluk yang ada, manusia memiliki bentuk fisik yang paling sempurna. Apalagi manusia dikarunia Allah suatu nikmat yang istimewa yang tidak Allah berikan kepada makhluk yang lainnya. Karunia tersebut adalah akal.

Manusia dalam kehidupannya di dunia ini menghadapi begitu banyak masalah. Dan masalah itu perlu untuk dipecahkan. Salah satu karunia Allah yang Dia berikan untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah yang ia hadapi adalah akal. Dengan akal manusia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang bersih dan mana yang kotor. Mana yang bermanfaat dan mana berbahaya. Dengan akal, manusia bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dan dengan akal manusia bisa bertafakkur, merenungi kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakannya. Itulah berbagai contoh keistimewaan akal manusia.

Ibadallah,

Namun ada satu hal yang perlu kita pahami. Akal dengan segala kelebihan yang dimilikinya ternyata akal juga punya kekurangan. Ternyata akal juga punya kelemahan. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam kita, Imam asy-Syafi’I,

إِنَّ لِلْعَقْلِ حَدًا يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ لِلْبَصَرِ حَدًّا يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ

“Akal itu punya batas yang tidak mungkin dia lampaui. Sebagaimana mata juga punya batas yang tidak mampu dia lampaui.”

Karena akal memiliki keterbatasan itulah akal bisa benar dan bisa salah. Akal ini bisa baik dan bisa juga buruk. Sehingga apapun yang diproduksi oleh akal bisa baik bisa juga buruk. Bisa benar dan bisa juga salah. Di antara produk dari akal adalah pemikiran, budaya, aturan, undang-undang. Dan semua yang merupakan produk akal pasti ada kekurangan dan kelebihan. Apalagi akal itu juga dipengaruhi sesuatu yang dinamai nafsu. Dan nafsu ini selalu mengajak seseorang melakukan hal-hal yang jahat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” [Quran Yusuf: 53].

Lalu bagaimana kita bisa menilai sesuatu yang merupakan produk akal ini baik atau buruk? Benar atau salah? Adakah alat yang bisa menguji kebenaran produk akal ini? Dan alat untuk menguji kebenaran ini haruslah jadi standar. Harus tidak boleh salah. Dan harus lebih tinggi dari akal. Adakah yang lebih tinggi dari akal? Jawabnya ada. Sesuatu yang lebih tinggi dari akal adalah wahyu. Yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau kita ingin mengetahui, produk yang dihasilkan akal kita ini benar atau salah. Produk tersebut baik atau buruk. Ukurlah produk tersebut dengan Alquran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Alquran dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini tidak mungkin salah. 

ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” [Quran Al-Baqarah: 147].

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu yang diproduksi oleh akal adalah budaya. Kebudayaan adalah hasil dari penciptaan akal budi manusia. Dari sini kita harus memahami, bahwa budaya ini bisa benar dan bisa salah. Bisa baik dan bisa buruk. Kata pepatah, “Taka da gading yang tak retak.” Karena itu, Islam datang ke dunia ini bukan untuk menghancurkan budaya. Islam diturunkan ke bumi ini bukan untuk menghapus budaya. Akan tetapi Islam datang untuk membimbing budaya agar dia menjadi budaya yang beradab. Budaya yang berkemajuan. Dan menuju budaya yang mengangkat derajat kemanusiaan.

Oleh karena itu, di dalam Islam, budaya itu dibagi menjadi dua. Pertama: kebudayaan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kedua: kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam. 

Pertama: kebudayaan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. 

Bahkan budaya ini sejalan dengan ajaran Islam. seperti, di nusantara ini ada namanya budaya gotong royong atau kerja bakti. Budaya ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam. kemudian, di antara budaya orang timur adalah budaya tata krama. Atau dalam sebutan Jawa unggah-ungguh. Atau dengan bahasa nasionalnya sopan santun. Ini budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.  

Tentang gotong royong, Allah sempurnakan budaya ini dengan firman-Nya,

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ 

“Dan tolong-menolonglah (gotong-royonglah) kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [Quran Al-Maidah: 2]

Berarti budaya gotong royong ini sejalan dengan ajaran Islam. Namun Islam menyempurnakannya. Tolong-menolonglah, gotong-royonglah dalam kebaikan. Dalam hal-hal yang membawa kemanfaatan bersama. Bukan gotong-royong dan tolong-menolong dalam kejahatan. Semisal kerja sama dalam korupsi dan sebagainya.

Demikian juga dengan sopan santun dan tata krama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا، وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيْرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan mengetahui hak orang dewasa kami.” [HR. Al-Hakim].

Ini adalah jenis budaya yang pertama. Yaitu budaya yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Yang kedua: kebudayaan yang bertentangan dengan syariat Islam.

Seperti apa contohnya? Seperti kebudayaan yang berbau kesyirikan. Kebudayaan yang memiliki asal-usul ritual syirik. Berupa pemujaan atau penyembahan kepada selain Allah. Seperti apa? Persembahan berupa kepala hewan untuk membangun bangunan. Atau untuk tempat-tempat yang katanya angker dan keramat. Demikian juga dengan sesaji-sesaji di tempat keramat. Ini budaya yang bertentangan dengan Islam. Mengapa? Karena di dalamnya terdapat unsur-unsur kesyirikan. Seorang muslim, tidak boleh menghidupkan budaya-budaya yang bertentangan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Demikian juga berpartisipasi di dalamnya. Karena Allah sudah berpesan.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [Quran Al-An’am: 162-163]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ البَيَانِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَ أَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْماً لِشَأْنِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً.

أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا النَّاسُ،

Ibadallah,

Dalam sebuah kitab yang berjudul al-Bidayah wa an-Nihayah, Imam Ibnu Katsir, salah seorang imam besar Madzhab Syafi’I, membawakan suatu kisah. Ketika negeri Mesir dikuasai kaum muslimin di masa pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Umar menugaskan salah seorang sahabat untuk menjadi gubernur di sana. Sahabat tersebut adalah Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu. 

Di awal-awal pemerintahannya di Mesir, Amr bin al-Ash didatangi oleh penduduk Mesir. Suatu ketika penduduk Mesir datang menemui Amr bin Ash pada saat sudah masuk salah satu bulan yang dianggap sakral oleh penduduk setempat.

Amr bin Al-Ash berkata: “tradisi apakah itu?”

“Jika masuk tanggal sebelas bulan ini, kami akan mencari seorang perawan ke rumah orang tua mereka. Lalu kami  minta kedua orang tuanya untuk memberikan perawan itu kepada kami dengan suka rela. Kami hiasi perawan itu dengan baju dan hiasan yang paling indah, kemudian kami lemparkan dia ke sungai Nil ini,” jawab penduduk.

Ini tidak mungkin dilakukan dalam Islam. Karena sesungguhnya Islam mengahpus tradisi lama,” kata Amr bin Al-Ash.

Lalu mereka mengikuti apa yang dikatakan oleh Amr bin Al-Ash. Ternyta sungai Nil itu kering dan tidak mengalirkan air sedikit pun. Hingga kebanyakan penduduk berencana untuk melakukan hijrah.

Tatakala melihat kondisi yang demikian, Amr bin Al-Ash menulis surat kepada Umar bin Khattab yang berada di Madinah. Dalam surat itu dia menerangkan bahwa mereka ditimpa musibah akibat apa yang saya katakan. Dan sesungguhnya saya  mengatakan kepada mereka bahwa Islam telah menghapus tradisi masa lalu.

Umar menulis kepada Amr bin Al-Ash yang di dalamnya ada nota kecil. Dalam surat itu Umar menulis: sesungguhnya saya telah mengirim kepadamu dalam suratku satu nota kecil maka lemparlah nota kecil itu ke Sungai Nil.

Tatkala surat Umar sampai di tangan Amr bin Al-Ash, dia mengambil nota kecil itu dan membukanya. Ternyata di dalamnya berisis tulisan sebagai berikut.

مِنْ عَبْدِ اللهِ عُمَرَ أَمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ إِلَى نِيْلَ أَهْلِ مِصْرَ : أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنْ كُنْتَ إِنَّمَا تَجْرِيْ مِنْ قِبَلِكَ وَمِنْ أَمْرِكَ: فَلَا تَجْرِ، فَلاَ حَاجَةَ لَنَا فِيْكَ، وَإِنْ كُنْتَ إِنَّمَا تَجْرِيْ بِأَمْرِ اللهِ الوَاحِدِ القَهَّارِ، وَهُوَ الَّذِيْ يَجْرِيْكَ فَنَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَجْرِيَكَ

Dari salah seorang hamba Allah, Amirul Mukminin, Umar bin Khattab, kepada Sungai Nil yang ada di Mesir. Amma Ba’du:

Jika kau (sungai Nil) mengalir karena kehendak pribadimu, maka janganlah engkau mengalir. Dan kami tidak membutuhkanmu. Namun jika engkau mengalir atas kehendak Allah, Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa, kami manusia meminta kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk mengalirkanmu kembali.

Amr bi Al Ash kemudian melemparkan nota kecil itu ke Sungai Nil. Lalu pada malam harinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengalirkan air Sungai Nil dengan kadar enam belas dzira’ (sekitar tuju meter) dalam satu malam. Dengan terjadinya peristiwa itu, Allah telah menghancurkan tradisi jahiliyah, tradisi primitif atau kuno dari penduduk Mesir hingga sekarang. Dan sejak saat itu hingga sekarang, Sungai Nil tidak pernah surut.

Dan inilah yang seharusnya kita lakukan. Tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, kita berusaha untuk kita tinggalkan. Kita bersihkan. Semampu yang kita bisa lakukan. 

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَرْضِ الشَامِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا،

اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عباد الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ* وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ) [النحل:90-91]، فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Diadaptasi dari khotbah Jumat Ustadz Abdullah Zaen, M.A dengan judul Islam dan Budaya.

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

ISLAM DAN BUDAYA (Khutbah Jum'at)

 

 





MUSYAWARAH PROVINSI VI

IKATAN ALUMNI RESIMEN MAHASISWA

PROVINSI JAWA TENGAH 

 

Musyawarah Provinsi ke VI Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Provinsi Jawa Tengah, dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 15 Oktober 2022 di Semarang.

Dalam Musyawarah Provinsi VI Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Provinsi Jawa Tengah tersebut disepakati menunjuk TEAM MUSPROV VI IKATAN ALUMNI RESIMEN MAHASISWA JAWA TENGAH yang terdiri dari :

1. Chrisno Hantoro        : Ketua terpilih/Ketua formatur sekaligus sebagai anggota

2. Royke Turang            : Unsur DPN IARMI sebagai sekretaris/anggota

3. Endro Mujiharto        : Unsur DPP IARMI Jawa Tengah sebagai anggota

4. Nuryanto                    : Unsur DPK IARMI Jawa Tengah sebagai anggota

5. Abdul Majid               : Unsur SKOMEN Jawa Tengah sebagai anggota

Formatur bertanggungjawab atas kegiatan DPP IARMI Jawa Tengah hingga terbentuknya DPP IARMI Jawa Tengah Masa Bakti tahun 2022 - 2026.

Formatur akan menyusun struktur dan personalia DPP IARMI Jawa Tengah Masa Bakti tahun 2022 - 2026 selambat-lambatnya 31 Oktober 2022, dan melaporkan kepada DPN IARMI untuk mendapat pengesahan.


MUSPROV VI IARMI

 


Cinta Tanah Air

 

***
Wahai orang-orang yang beriman … Hamba-hamba Allah !

Telah tertanam di dalam tabiat manusia rasa cinta terhadap tanah air dan tempat tinggalnya, mabuk cinta terhadap daerah asalnya. Rasa cinta ini merupakan hal fithri yang tertancap dalam jiwa, sedemikian melekat dalam relung-relung hati. Tanah air seseorang adalah tanah kelahirannya, di atasnya ia tumbuh dan berkembang, di atas tanahnya ia bertatih dan berjalan, kebaikan-kebaikannya ia menikmatinya, dalam pengasuhannya ia tumbuh dan berkembang. Dan, bila mana unta itu rindu kepada daerah-daerah asalnya dan burung pun rindu kepada sangkar-sangkarnya, lalu bagaimana halnya dengan manusia ?!

Wahai orang-orang yang beriman !

Sesungguhnya kecintaan tabiat kepada daerah asal ini merupakan sebab yang mendorong seseorang untuk mengurusnya dan membangunnya, meramaikannya dan menyelamatkanya dari keruntuhannya.

Diriwayatkan dari Umar bin Khathtab-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-bahwa beliau mengatakan,


«لَوْلَا حُبُّ الْوَطَنِ لَخَرِبَ بَلَدُ السُّوْءِ»

 

Andaikan bukan karena cinta tanah air, niscaya akan runtuhlah negeri yang buruk.

Dikatakan pula,


"بِحُبِّ اْلأَوْطَانِ عُمِرَتِ الْبُلْدَانُ" .

 

Karena cinta tanah air pula, negeri-negeri itu dibangun.

Dan dikatakan pula,


"كَمَا أَنَّ لِحَاضِنَتِكَ حَقَّ لَبَنِهَا ، فَلِأَرْضِكَ حُرْمَةَ وَطَنِهَا" .

 

Sebagaimana halnya pengasuhmu memiliki hak terhadap air susunya, maka bumi (tempat berpijakmu) memiliki kehormatan tanah airnya.

Wahai orang-orang yang beriman !

Al-Qur’an yang mulia telah menunjukkan kedudukan ini, cinta terhadap tanah air, dan bahwa hal tersebut merupakan perkara yang tertanam di dalam fithrah, jiwa pun condong kepadanya. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,


{ وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُواْ مِن دِيَارِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِّنْهُمْ } [النساء:66] ؛

 

Seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik), “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,” niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka...(an-Nisa : 66).

Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menghubungkan ‘keluar dari kampung halaman’ dengan ‘membunuh diri’. Dengan pemahaman sebaliknya, hal ini memberikan faedah bahwa ‘tetapnya seseorang di kampung halamannya’ sepadan dengan ‘hidup’.

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-juga berfirman,


{ قَالُواْ وَمَا لَنَا أَلاَّ نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَآئِنَا} [البقرة:246]

 

Mereka menjawab “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami (al-Baqarah : 246)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menjadikan ‘berperang ‘ sebagai penuntutan balas atas tindak pengusiran.

Wahai orang-orang yang beriman !

Bila mana rasa cinta terhadap tanah air ini tertancap di dalam jiwa semua orang, lantas bagaimana halnya dengan rasa cinta itu terhadap tanah air yang diberkahi ini (kota Madinah dan Makkah) yang merupakan negeri tauhid dan aqidah, tempat terpancarnya cahaya sunnah dan risalah, tempat turunnya wahyu, tempat kembalinya keimanan, tanah haram, dan kiblat seluruh kaum Muslimin ?!.

Wahai orang-orang yang beriman !

Sesungguhnya tanah air seorang muslim yang tegak berdiri di atas syariat yang dibangun untuk menegakkan hukum Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-terkumpul pada diri penduduknya dua rasa kecintaan :
(Pertama) Kecintaan yang bersifat fithri, yaitu, kecintaan yang telah disebutkan sebelumnya.
(Kedua) Kecintaan yang bersifat syar’i, yaitu, kecintaan nan agung yang dibangun di atas kebaikan dan perbaikan.

Renungkanlah oleh kalian kecintaan Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-terhadap tanah air ini yang tergambarkan di dalam hadis-hadis yang cukup banyak, antara lain adalah apa yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari di dalam shahihnya, dari Anas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-ia berkata,


« كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَأَبْصَرَ جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا»

 

Dulu, Rasulullah- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-ketika datang dari safar, saat melihat tembok-tembok Madinah beliau mempercepat jalan untanya. Dan jika unta betina yang ditungganginya adalah unta yang tengah membawa barang, beliau menggerakannya karena rasa cintanya terhadapnya.

Yakni, karena terdorong oleh rasa cinta beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - terhadap kota Madinah, karena Madinah adalah tempat tinggalnya yang diberkahi dan rumahnya yang baik. beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - melakukan hal tersebut, di mana dalam tindakannya itu terdapat keteladanan bagi kita semuanya.

Dan, beliau -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - juga memerintahkan kepada umatnya agar cepat kembali ke tanah air mereka, tempat tinggal mereka ketika telah selesai dari urusan dan keperluan mereka dalam safarnya. Baik urusan tersebut terkait dengan urusan agama atau pun terkait dengan urusan dunia.

Imam al-Bukhari dan imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-bahwa Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -bersabda,


(( السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ نَوْمَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ وَجْهِهِ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ )) .

 

Safar merupakan bagian dari bentuk siksaan, safar menghalangi salah seorang di antara kalian dari menikmati tidurnya, makan dan minumnya. Karena itu, apabila salah seorang di antara kalian telah menyelesaikan keperluannya yang dimaksudkanya, maka bersegeralah kembali ke keluarganya.

Bahkan, beliau -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - pun menyeru untuk kembali ke tanah air dan tempat tinggalnya walau pun safar yang dilakukannya ke Makkah tempat baitullah al-Haram.

Al-Hakim meriwayatkan dengan sanad yang valid dari Ummul Mukminin Aisyah-رَضِيَ اللهُ عَنْهَا- bahwa Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - bersabda,


((إِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ حَجَّهُ فَلْيُعَجِّلِ الرِّحْلَةَ إِلَى أَهْلِهِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأَجْرِهِ))

 

Apabila salah seorang di antara kalian telah menyelesaikan urusan hajinya, maka bersegeralah melakukan perjalanan untuk kembali ke ‘ahli’-nya. Sesungguhnya hal itu lebih besar pahalanya.

Para ulama mengatakan : yang dimaksud dengan ‘ahli-nya’, yakni, tanah airnya sekali pun ia tidak memiliki anak atau keluarga di tanah airnya.

Wahai orang-orang yang beriman !

Seorang muslim sejati adalah orang yang paling jujur rasa cintanya kepada tanah air dan tempat tinggalnya. Karena ia menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk keluarganya dengan cara menerapkan syariat Islam, menegakkan tonggak aqidah yang kuat, menyelamatkan mereka dari api Neraka dan menyelamatkan mereka dari murka Yang Maha Kuasa.

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman, menghikayatkan tentang orang beriman dari keluarga Fir’aun bahwa ia mengatakan,


{يَا قَوْمِ لَكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ظَاهِرِينَ فِي الْأَرْضِ فَمَن يَنصُرُنَا مِن بَأْسِ اللَّهِ إِنْ جَاءنَا} [غافر:29]

 

Wahai kaumku, pada hari ini kerajaan ada padamu dengan berkuasa di bumi. Akan tetapi, siapa yang akan menolong kita dari azab Allah jika (azab itu) menimpa kita?”... (Ghafir : 29)

Ia mengatakan hal tersebut untuk memberikan warning (peringatan) terhadap kaumnya dan sebagai bentuk nasehat terhadap mereka. Menginginkan kebaikan, kemaslahatan dan keselamatan bagi mereka.

Iya-wahai orang-orang yang beriman- !

Cinta tanah air yang benar tidaklah terjadi kecuali dengan cara berupaya melakukan hal-hal yang akan dapat memperbaiki kondisinya, sementara tidak akan terjadi perbaikannya kecuali dengan agama Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, tidak akan tegak kecuali dengan syariat-Nya. Setiap tindakan apa pun yang belawanan dengan syariat, maka hal tersebut bukanlah merupakan perbaikan. Bahkan, hal tersebut merupakan pengrusakan dan sama sekali bukan merupakan bentuk dari cinta tanah air.

Wahai orang-orang yang beriman !

Kebaikan tanah air itu adalah dengan baiknya aqidah Islam dan kelurusannya. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,


{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا } [النور:55] .

 

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun...(an-Nur : 55)

Kebaikan tanah air itu juga dapat terwujud dengan memberlakukan hukum syariat di atas buminya dan di antara para penduduknya, membangun dan meramaikan seluruh penjuru wilayahnya dengan iman dan takwa kepada ar-Rahman (Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-).
Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- berfirman,


{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ } [الأعراف:96] .

 

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi...(al-A’raf : 96)

Kebaikan tanah air itu juga dapat terwujud dengan meninggikan pilar-pilar dakwah menyuru manusia kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-di dalamnya, menegakkan syariat amar makruf nahi munkar (memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran). Sebagaimana Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,


{الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوْا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأُمُورِ} [الحج:41] .

 

(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka menegakkan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan. (al-Hajj : 41)

Kebaikan tanah air itu juga dapat terwujud dengan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan, memangkas kerusakan dan membuangnya. Karena, dosa, kemaksiatan dan pengrusakan merupakan sebab keruntuhan bagi negeri dan sebab kebinsaan para penduduknya.
Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,


{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

 

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Ruum : 41)

Kebaikan tanah air itu juga dapat terwujud dengan menjauhkan diri dari sikap angkuh dan mengkufuri nikmat-nikmat.
Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,


{وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ} [النحل:112] .

 

Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram yang rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari setiap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh karena itu, Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan karena apa yang selalu mereka perbuat. (an-Nahl : 112)

Kebaikan tanah air itu juga dapat terwujud dengan malazimi Jama’ah dan sikap mendengar dan taat, karena sesungguhnya kemaslahatan-kemaslahatan ummat tidak akan dapat terwujud melainkan dengan berjama’ah, dan jama’ah itu tak akan terwujud melainkan dengan adanya tata pemerintahan dan tata pemerintahan itu tak akan berdiri melainkan di atas suatu negeri.

Wahai orang-orang yang beriman !

Sungguh untuk mewujudkan tanah air yang baik itu bukanlah dengan kata-kata yang diulang-ulang, tidak pula dangan simbol-simbol yang ditinggikan. Hal itu hanya akan terwujud dengan keikhlasan, amal, nasehat yang jujur untuk tanah air, pemerintahnya dan rakyatnya.

Ini adalah seruan dan ajakan untuk kita semuanya agar kita semuanya hendaknya bertakwa kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-di tanah air yang diberkahi ini, hendaknya tinggalnya kita di tanah air ini dibangun di atas kebaikan dan perbaikan, jauh dari keburukan dan kerusakan. Dan hendaknya kita dalam mengupayakan kesemuanya itu senantiasa merasa diawasi oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-Dzat yang mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam jiwa.

Telah shahih di dalam hadis dari Nabi kita Muhammad-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bahwa beliau bersabda,


((الدِّينُ النَّصِيحَةُ)) ، قُلْنَا: لِمَنْ يا رسول الله ؟ قَالَ: ((لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ )) .

 

Agama itu nasehat. Kami (para sahabat) bertanya, ‘Hak siapa, wahai Rasulullah ? Beliau menjawab, ‘Nasehat itu hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin dan rakyatnya.
**
Ya Allah ! Tuhan semesta alam. Makmurkanlah hati kami dengan nasehat-wahai Dzat yang Maha Agung Maha mulia. Hilangkanlah dari kami kecurangan, makar, tipu daya, dan permusuhan. Jadikanlah kami, keluarga kami, dan anak cucu kami sebagai orang-orang yang shaleh dan orang-orang yang memperbaiki orang lain dan lingkungan, wahai Tuhan semesta alam.

Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah !

Adapun sesuatu yang diriwayatkan dan dinisbatkan kepada Nabi kita yang mulia Muhammad-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bahwa beliau bersabda,


«حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ اْإِ يْمَانِ»

 

Cinta tanah air termasuk bagian dari keimanan.

Ini adalah hadis yang tidak valid dari Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. Bahkan, ini merupakan perkataan dusta yang dinisbatkan kepada Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- berdasarkan kesepakatan para ulama. Oleh kerena itu, tidak boleh untuk dikatakan,’Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda, ‘Cinta tanah air termasuk bagian dari keimanan.’ Hal itu karena, berdasarkan kesepakatan para ulama ungkapan tersebut tidak valid bersumber dari Nabi kita yang mulia Muhammad-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-.

Adapun dari sisi makna ungkapan tersebut, maka,

Jika yang dimaksudkan dengan ‘cinta tanah air’ adalah cinta secara syar’i yang berdiri di atas kebaikan dan perbaikan, maka tidak diragukan bahwa hal tersebut termasuk bagian dari keimanan.

Atau, yang dimaksudkan dengan ‘al-Wathan’ adalah ‘al-Jannah’ (Surga), surga-surga yang penuh dengan beragam bentuk kenikmatan, maka ia adalah tempat tinggal kita yang pertama. Dan, keberadaan hidup kita di dunia ini tertawan oleh musuh. Maka, barang siapa berhasil lolos, ia bakal kembali ke tempat tinggalnya yang pertama. Namun, akan ada juga yang rugi, ia tidak bisa lolos dan diharamkan dari hal tersebut. Semoga Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-melindungi kita dari hal tersebut.

Wahai orang-orang yang beriman !

Sesunguhnya orang yang cerdas dari kalangan hamba-hamba Allah -سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah siapa yang dirinya mengikuti keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dengan beragam bentuk angan-angan yang kosong.

Ya, Allah ! Berikanlah keamanan di tanah air kami. Perbaikilah para pemimpin dan orang-orang yang mengurusi urusan-urusan kami. Jadikanlah penguasaan terhadap urusan kami terletak pada orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridhaan-Mu, wahai Tuhan semesta alam.

Ya Allah ! Berikanlah taufik kepada waliyul amri kami untuk melakukan hal-hal yang Engkau cintai dan Engkau ridhai, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah ! Berikanlah pada jiwa-jiwa kami ketakwaannya. Sucikanlah ia, Engkaulah dzat terbaik yang dapat menyucikannya.

Ya Allah ! Perbaikilah hubungan di antara sesama kami. Persatukanlah hati kami. Tunjukanlah kami kepada jalan-jalan keselamatan. Keluarkan kami dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya.

Berikanlah keberkahan kepada kami, pada pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, dan kekuatan-kekuatan kami. Wahai dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah ! Kami memohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya, yang segera (di dunia) dan yang tertunda (di akhirat), yang kami mengetahuinya dan yang kami tidak mengetahuinya. Dan, kami berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya, yang segera (di dunia) dan yang tertunda (di akhirat), yang kami mengetahuinya dan yang kami tidak mengetahuinya.

Kami pun memohon kepada-Mu agar Engkau jadikan segala ketentuan yang Engkau putuskan untuk kami sebagai kebaikan untuk kami, wahai Tuhan semesta alam.

Ya Allah ! Ampunilah kami, kedua orang tua kami, muslimin dan muslimat, orang-orang yang beriman laki-laki dan wanita, yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia.

Ya Tuhan kami ! Sesungguhnya kami telah banyak menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.

Amin

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, berta keluarganya dan para sahabatnya.

(Redaksi)

Sumber :
Hubbul Wathan, Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr-حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى-

 

Artikel Buletin An-Nur :  Jumat, 26 Agustus 22

CINTA TANAH AIR

- Copyright © MY BERET - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -