Cinta Tanah Air
***
Wahai orang-orang yang beriman … Hamba-hamba Allah !
Telah
tertanam di dalam tabiat manusia rasa cinta terhadap tanah air dan tempat
tinggalnya, mabuk cinta terhadap daerah asalnya. Rasa cinta ini merupakan hal
fithri yang tertancap dalam jiwa, sedemikian melekat dalam relung-relung hati.
Tanah air seseorang adalah tanah kelahirannya, di atasnya ia tumbuh dan
berkembang, di atas tanahnya ia bertatih dan berjalan, kebaikan-kebaikannya ia
menikmatinya, dalam pengasuhannya ia tumbuh dan berkembang. Dan, bila mana unta
itu rindu kepada daerah-daerah asalnya dan burung pun rindu kepada
sangkar-sangkarnya, lalu bagaimana halnya dengan manusia ?!
Wahai orang-orang yang beriman !
Sesungguhnya kecintaan tabiat kepada daerah asal ini merupakan sebab yang mendorong seseorang untuk mengurusnya dan membangunnya, meramaikannya dan menyelamatkanya dari keruntuhannya.
Diriwayatkan dari Umar bin Khathtab-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-bahwa beliau mengatakan,
«لَوْلَا حُبُّ الْوَطَنِ لَخَرِبَ بَلَدُ السُّوْءِ»
Andaikan
bukan karena cinta tanah air, niscaya akan runtuhlah negeri yang buruk.
Dikatakan pula,
"بِحُبِّ اْلأَوْطَانِ عُمِرَتِ الْبُلْدَانُ" .
Karena
cinta tanah air pula, negeri-negeri itu dibangun.
Dan dikatakan pula,
"كَمَا أَنَّ لِحَاضِنَتِكَ حَقَّ لَبَنِهَا ، فَلِأَرْضِكَ حُرْمَةَ
وَطَنِهَا" .
Sebagaimana
halnya pengasuhmu memiliki hak terhadap air susunya, maka bumi (tempat berpijakmu)
memiliki kehormatan tanah airnya.
Wahai orang-orang yang beriman !
Al-Qur’an yang mulia telah menunjukkan kedudukan ini, cinta terhadap tanah air, dan bahwa hal tersebut merupakan perkara yang tertanam di dalam fithrah, jiwa pun condong kepadanya. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,
{ وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ أَوِ
اخْرُجُواْ مِن دِيَارِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِّنْهُمْ } [النساء:66]
؛
Seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik), “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,” niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka...(an-Nisa : 66).
Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menghubungkan ‘keluar
dari kampung halaman’ dengan ‘membunuh diri’. Dengan pemahaman sebaliknya, hal
ini memberikan faedah bahwa ‘tetapnya seseorang di kampung halamannya’ sepadan
dengan ‘hidup’.
Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-juga berfirman,
{ قَالُواْ وَمَا لَنَا أَلاَّ نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا
مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَآئِنَا} [البقرة:246]
Mereka menjawab “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami (al-Baqarah : 246)
Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menjadikan ‘berperang
‘ sebagai penuntutan balas atas tindak pengusiran.
Wahai orang-orang yang beriman !
Bila mana
rasa cinta terhadap tanah air ini tertancap di dalam jiwa semua orang, lantas
bagaimana halnya dengan rasa cinta itu terhadap tanah air yang diberkahi ini
(kota Madinah dan Makkah) yang merupakan negeri tauhid dan aqidah, tempat
terpancarnya cahaya sunnah dan risalah, tempat turunnya wahyu, tempat
kembalinya keimanan, tanah haram, dan kiblat seluruh kaum Muslimin ?!.
Wahai orang-orang yang beriman !
Sesungguhnya
tanah air seorang muslim yang tegak berdiri di atas syariat yang dibangun untuk
menegakkan hukum Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-terkumpul
pada diri penduduknya dua rasa kecintaan :
(Pertama) Kecintaan yang bersifat fithri, yaitu, kecintaan yang telah
disebutkan sebelumnya.
(Kedua) Kecintaan yang bersifat syar’i, yaitu, kecintaan nan agung yang
dibangun di atas kebaikan dan perbaikan.
Renungkanlah oleh kalian kecintaan Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-terhadap tanah air ini yang tergambarkan di dalam hadis-hadis yang cukup banyak, antara lain adalah apa yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari di dalam shahihnya, dari Anas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-ia berkata,
« كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ
سَفَرٍ فَأَبْصَرَ جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ ، وَإِنْ كَانَتْ
دَابَّةً حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا»
Dulu, Rasulullah- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-ketika datang dari safar, saat melihat tembok-tembok Madinah beliau mempercepat jalan untanya. Dan jika unta betina yang ditungganginya adalah unta yang tengah membawa barang, beliau menggerakannya karena rasa cintanya terhadapnya.
Yakni, karena terdorong oleh rasa cinta beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - terhadap kota Madinah, karena Madinah adalah tempat tinggalnya yang diberkahi dan rumahnya yang baik. beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - melakukan hal tersebut, di mana dalam tindakannya itu terdapat keteladanan bagi kita semuanya.
Dan, beliau -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - juga memerintahkan kepada umatnya agar cepat kembali ke tanah air mereka, tempat tinggal mereka ketika telah selesai dari urusan dan keperluan mereka dalam safarnya. Baik urusan tersebut terkait dengan urusan agama atau pun terkait dengan urusan dunia.
Imam al-Bukhari dan imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-bahwa Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -bersabda,
(( السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ نَوْمَهُ وَطَعَامَهُ
وَشَرَابَهُ ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ وَجْهِهِ فَلْيُعَجِّلْ
إِلَى أَهْلِهِ )) .
Safar merupakan bagian dari bentuk siksaan, safar menghalangi salah seorang di antara kalian dari menikmati tidurnya, makan dan minumnya. Karena itu, apabila salah seorang di antara kalian telah menyelesaikan keperluannya yang dimaksudkanya, maka bersegeralah kembali ke keluarganya.
Bahkan, beliau -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - pun menyeru untuk kembali ke tanah air dan tempat tinggalnya walau pun safar yang dilakukannya ke Makkah tempat baitullah al-Haram.
Al-Hakim meriwayatkan dengan sanad yang valid dari Ummul Mukminin Aisyah-رَضِيَ اللهُ عَنْهَا- bahwa Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - bersabda,
((إِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ حَجَّهُ فَلْيُعَجِّلِ الرِّحْلَةَ إِلَى أَهْلِهِ
فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأَجْرِهِ))
Apabila salah seorang di antara kalian telah menyelesaikan urusan hajinya, maka bersegeralah melakukan perjalanan untuk kembali ke ‘ahli’-nya. Sesungguhnya hal itu lebih besar pahalanya.
Para
ulama mengatakan : yang dimaksud dengan ‘ahli-nya’, yakni, tanah airnya sekali
pun ia tidak memiliki anak atau keluarga di tanah airnya.
Wahai orang-orang yang beriman !
Seorang muslim sejati adalah orang yang paling jujur rasa cintanya kepada tanah air dan tempat tinggalnya. Karena ia menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk keluarganya dengan cara menerapkan syariat Islam, menegakkan tonggak aqidah yang kuat, menyelamatkan mereka dari api Neraka dan menyelamatkan mereka dari murka Yang Maha Kuasa.
Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman, menghikayatkan tentang orang beriman dari keluarga Fir’aun bahwa ia mengatakan,
{يَا قَوْمِ لَكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ظَاهِرِينَ فِي الْأَرْضِ فَمَن
يَنصُرُنَا مِن بَأْسِ اللَّهِ إِنْ جَاءنَا} [غافر:29]
Wahai kaumku, pada hari ini kerajaan ada padamu dengan berkuasa di bumi. Akan tetapi, siapa yang akan menolong kita dari azab Allah jika (azab itu) menimpa kita?”... (Ghafir : 29)
Ia
mengatakan hal tersebut untuk memberikan warning (peringatan) terhadap kaumnya
dan sebagai bentuk nasehat terhadap mereka. Menginginkan kebaikan, kemaslahatan
dan keselamatan bagi mereka.
Iya-wahai orang-orang yang beriman- !
Cinta
tanah air yang benar tidaklah terjadi kecuali dengan cara berupaya melakukan
hal-hal yang akan dapat memperbaiki kondisinya, sementara tidak akan terjadi
perbaikannya kecuali dengan agama Allah-سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى-, tidak akan tegak kecuali dengan syariat-Nya. Setiap tindakan
apa pun yang belawanan dengan syariat, maka hal tersebut bukanlah merupakan
perbaikan. Bahkan, hal tersebut merupakan pengrusakan dan sama sekali bukan
merupakan bentuk dari cinta tanah air.
Wahai orang-orang yang beriman !
Kebaikan tanah air itu adalah dengan baiknya aqidah Islam dan kelurusannya. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,
{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم
مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا }
[النور:55] .
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun...(an-Nur : 55)
Kebaikan
tanah air itu juga dapat terwujud dengan memberlakukan hukum syariat di atas
buminya dan di antara para penduduknya, membangun dan meramaikan seluruh
penjuru wilayahnya dengan iman dan takwa kepada ar-Rahman (Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-).
Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- berfirman,
{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ
بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ } [الأعراف:96] .
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi...(al-A’raf : 96)
Kebaikan tanah air itu juga dapat terwujud dengan meninggikan pilar-pilar dakwah menyuru manusia kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-di dalamnya, menegakkan syariat amar makruf nahi munkar (memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran). Sebagaimana Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,
{الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوْا
الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ
عَاقِبَةُ الأُمُورِ} [الحج:41] .
(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka menegakkan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan. (al-Hajj : 41)
Kebaikan
tanah air itu juga dapat terwujud dengan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan
dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan, memangkas kerusakan dan membuangnya. Karena,
dosa, kemaksiatan dan pengrusakan merupakan sebab keruntuhan bagi negeri dan
sebab kebinsaan para penduduknya.
Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,
{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Ruum : 41)
Kebaikan
tanah air itu juga dapat terwujud dengan menjauhkan diri dari sikap angkuh dan
mengkufuri nikmat-nikmat.
Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,
{وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا
رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا
اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ} [النحل:112] .
Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram yang rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari setiap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh karena itu, Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan karena apa yang selalu mereka perbuat. (an-Nahl : 112)
Kebaikan
tanah air itu juga dapat terwujud dengan malazimi Jama’ah dan sikap mendengar
dan taat, karena sesungguhnya kemaslahatan-kemaslahatan ummat tidak akan dapat
terwujud melainkan dengan berjama’ah, dan jama’ah itu tak akan terwujud
melainkan dengan adanya tata pemerintahan dan tata pemerintahan itu tak akan
berdiri melainkan di atas suatu negeri.
Wahai orang-orang yang beriman !
Sungguh untuk mewujudkan tanah air yang baik itu bukanlah dengan kata-kata yang diulang-ulang, tidak pula dangan simbol-simbol yang ditinggikan. Hal itu hanya akan terwujud dengan keikhlasan, amal, nasehat yang jujur untuk tanah air, pemerintahnya dan rakyatnya.
Ini adalah seruan dan ajakan untuk kita semuanya agar kita semuanya hendaknya bertakwa kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-di tanah air yang diberkahi ini, hendaknya tinggalnya kita di tanah air ini dibangun di atas kebaikan dan perbaikan, jauh dari keburukan dan kerusakan. Dan hendaknya kita dalam mengupayakan kesemuanya itu senantiasa merasa diawasi oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-Dzat yang mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam jiwa.
Telah shahih di dalam hadis dari Nabi kita Muhammad-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bahwa beliau bersabda,
((الدِّينُ النَّصِيحَةُ)) ، قُلْنَا: لِمَنْ يا رسول الله ؟ قَالَ: ((لِلَّهِ
وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ )) .
Agama itu
nasehat. Kami (para sahabat) bertanya, ‘Hak siapa, wahai Rasulullah ? Beliau
menjawab, ‘Nasehat itu hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum
Muslimin dan rakyatnya.
**
Ya Allah ! Tuhan semesta alam. Makmurkanlah hati kami dengan nasehat-wahai Dzat
yang Maha Agung Maha mulia. Hilangkanlah dari kami kecurangan, makar, tipu
daya, dan permusuhan. Jadikanlah kami, keluarga kami, dan anak cucu kami
sebagai orang-orang yang shaleh dan orang-orang yang memperbaiki orang lain dan
lingkungan, wahai Tuhan semesta alam.
Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah !
Adapun sesuatu yang diriwayatkan dan dinisbatkan kepada Nabi kita yang mulia Muhammad-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bahwa beliau bersabda,
«حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ اْإِ يْمَانِ»
Cinta tanah air termasuk bagian dari keimanan.
Ini
adalah hadis yang tidak valid dari Rasulullah-صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. Bahkan, ini merupakan perkataan dusta
yang dinisbatkan kepada Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ- berdasarkan kesepakatan para ulama. Oleh kerena itu, tidak
boleh untuk dikatakan,’Rasulullah-صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda, ‘Cinta tanah air termasuk
bagian dari keimanan.’ Hal itu karena, berdasarkan kesepakatan para ulama ungkapan
tersebut tidak valid bersumber dari Nabi kita yang mulia Muhammad-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-.
Adapun dari sisi makna ungkapan tersebut, maka,
•
Jika yang
dimaksudkan dengan ‘cinta tanah air’ adalah cinta secara syar’i yang berdiri di
atas kebaikan dan perbaikan, maka tidak diragukan bahwa hal tersebut termasuk
bagian dari keimanan.
•
Atau,
yang dimaksudkan dengan ‘al-Wathan’ adalah ‘al-Jannah’ (Surga),
surga-surga yang penuh dengan beragam bentuk kenikmatan, maka ia adalah tempat
tinggal kita yang pertama. Dan, keberadaan hidup kita di dunia ini tertawan
oleh musuh. Maka, barang siapa berhasil lolos, ia bakal kembali ke tempat
tinggalnya yang pertama. Namun, akan ada juga yang rugi, ia tidak bisa lolos
dan diharamkan dari hal tersebut. Semoga Allah-سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى-melindungi kita dari hal tersebut.
Wahai orang-orang yang beriman !
Sesunguhnya orang yang cerdas dari kalangan hamba-hamba Allah -سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah siapa yang dirinya mengikuti keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dengan beragam bentuk angan-angan yang kosong.
Ya, Allah ! Berikanlah keamanan di tanah air kami. Perbaikilah para pemimpin dan orang-orang yang mengurusi urusan-urusan kami. Jadikanlah penguasaan terhadap urusan kami terletak pada orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridhaan-Mu, wahai Tuhan semesta alam.
Ya Allah ! Berikanlah taufik kepada waliyul amri kami untuk melakukan hal-hal yang Engkau cintai dan Engkau ridhai, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ya Allah ! Berikanlah pada jiwa-jiwa kami ketakwaannya. Sucikanlah ia, Engkaulah dzat terbaik yang dapat menyucikannya.
Ya Allah ! Perbaikilah hubungan di antara sesama kami. Persatukanlah hati kami. Tunjukanlah kami kepada jalan-jalan keselamatan. Keluarkan kami dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya.
Berikanlah keberkahan kepada kami, pada pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, dan kekuatan-kekuatan kami. Wahai dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ya Allah ! Kami memohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya, yang segera (di dunia) dan yang tertunda (di akhirat), yang kami mengetahuinya dan yang kami tidak mengetahuinya. Dan, kami berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya, yang segera (di dunia) dan yang tertunda (di akhirat), yang kami mengetahuinya dan yang kami tidak mengetahuinya.
Kami pun memohon kepada-Mu agar Engkau jadikan segala ketentuan yang Engkau putuskan untuk kami sebagai kebaikan untuk kami, wahai Tuhan semesta alam.
Ya Allah ! Ampunilah kami, kedua orang tua kami, muslimin dan muslimat, orang-orang yang beriman laki-laki dan wanita, yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia.
Ya Tuhan
kami ! Sesungguhnya kami telah banyak menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau
tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk golongan orang-orang
yang merugi.
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta
lindungilah kami dari azab neraka.
Amin
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, berta keluarganya
dan para sahabatnya.
(Redaksi)
Sumber :
Hubbul Wathan, Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin
al-Badr-حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى-
Artikel Buletin An-Nur : Jumat, 26 Agustus 22
